Ulasan Lengkap:
Buku Sayangi Dirimu, Berhentilah Menyenangkan Semua Orang karya Sabrina Ara menjadi bacaan yang menarik karena mengangkat persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: keinginan untuk membuat semua orang senang. Sebagai narasumber, saya melihat buku ini bukan sebagai ajakan untuk menjadi pribadi yang egois atau tidak peduli kepada orang lain. Justru, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa kepedulian terhadap orang lain perlu diimbangi dengan kemampuan untuk menghargai dan menjaga diri sendiri. Tidak sedikit orang yang terbiasa mengatakan “iya” meskipun sebenarnya ingin mengatakan “tidak”. Takut mengecewakan, takut dianggap tidak baik, atau takut hubungan menjadi tidak nyaman membuat seseorang terus berusaha memenuhi harapan orang lain. Padahal, kita tidak mungkin membuat semua orang selalu merasa puas dengan pilihan kita.
Ketika Terlalu Sibuk Menyenangkan Orang Lain. Salah satu hal yang menjadi refleksi dari buku ini adalah kebiasaan people pleasing, yaitu kecenderungan untuk terlalu berusaha menyenangkan orang lain hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, selalu menerima pekerjaan tambahan meskipun beban sudah banyak, sulit menolak permintaan orang lain, merasa bersalah ketika memilih kepentingan diri sendiri, atau terlalu memikirkan penilaian orang terhadap kita. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang merasa lelah secara fisik maupun emosional. Buku ini mengajak pembaca memahami bahwa mengatakan “tidak” pada sesuatu yang memang tidak dapat kita lakukan bukan berarti kita menjadi orang yang jahat.
Salah satu pesan penting dari buku ini adalah tentang batasan diri. Menetapkan batasan bukan berarti menjauh dari orang lain. Batasan justru membantu kita menjaga hubungan agar tetap sehat. Kita perlu mengetahui kapan harus membantu, kapan harus berkata cukup, dan kapan perlu memberikan waktu untuk diri sendiri. Dalam lingkungan kerja, kemampuan menetapkan batasan juga penting. Sebagai pegawai, kita memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Namun, kita juga perlu memahami kapasitas diri dan berkomunikasi secara terbuka ketika menghadapi beban atau situasi yang tidak memungkinkan. Profesionalitas bukan berarti harus selalu mengatakan “iya” terhadap semua hal.
Buku ini sangat relevan bagi pegawai karena lingkungan kerja tidak terlepas dari interaksi dengan banyak orang. Ada pimpinan, rekan kerja, mahasiswa, pemustaka, dan berbagai pihak lainnya yang memiliki kebutuhan dan harapan berbeda. Keinginan untuk memberikan pelayanan terbaik tentu merupakan hal yang positif. Namun, kita juga perlu memahami bahwa tidak semua harapan orang lain dapat kita penuhi.
Terkadang kita perlu mengatakan: "Saya belum bisa" atau “Saya membutuhkan waktu” atau“Saat ini saya sedang menyelesaikan pekerjaan lain.” Ungkapan tersebut bukan bentuk ketidakpedulian, melainkan bentuk komunikasi yang sehat dan jujur.
Judul buku ini mungkin pada awalnya terdengar seperti ajakan untuk lebih mementingkan diri sendiri. Namun, menurut saya, pesan yang ingin disampaikan justru lebih dalam. Menyayangi diri berarti memahami bahwa diri kita juga memiliki kebutuhan, keterbatasan, dan batas kemampuan. Kita tetap dapat menjadi orang yang peduli, membantu orang lain, dan bekerja dengan penuh tanggung jawab tanpa harus mengorbankan diri secara terus-menerus. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, beristirahat, mengevaluasi diri, dan mengakui bahwa kita tidak harus selalu kuat.