Ulasan Lengkap:
Di awal halaman kita sudah di gedor kalimat “Mengapa Hidupku Begini?”, “Bencikah Allah Kepadaku?”, “Bolehkah Aku Membenci Hidupku?”. Sebenarnya hal ini adalah lumrah. Karena Allah telah berfirman dalam surat A-Maarij:19-22,
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apapbila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapatkan kebaikan, ia amat kikir”.
Penciptaan manusia dengan sifat yang telah dilekatkan oleh-Nya. Allah tidak pernah benci sesiapapun didunia ini. Sekalipun yang berbuat maksiat kepada-Nya. Bisa jadi kita yang selalu membenci ketetapan Allah. Benci dengan takdir yang diturunkan pada kita. Kita tidak boleh benci dan suka yang berlebihan.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tak baik untukmu. Allah mngetahai, sedang kamu tidak mengetahui”. QS. Al-Baqarah:216.
Ketiga pertanyaan diatas muncul karena kurangnya kita bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepada kita. Rasa syukur yang tidak muncul ini dipengaruh sifat ingin lebih dari yang didapatkan sehingga lupa dengan apa yang sudah ada. Tidak bersyukur juga datang dari permintaan kita yang kita kepada Allah yang belum juga Kabul. Hati-hati bisa jadi kita terjangkit penyakit yaitu sebagai berikut :
Sikap kurang bersyukur bahkan masuk tidak bersyukur dikarenakan 2 ha
- Kebodohan. Kufur / ingkar nikmat itu berawal dari ketidakmengertian manusia tentang nikmat Allah dan kaerunia Allah atasnya.
“Sesungghunya bertaubat kepada Allah itu hanya bagi mereka yang melakukan maksiat karena tidak mengerti, kemudian bertaubat”. QS. An Nisaa: 17 - Kelalaian
“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya”. QS. An Nahl:83.
Jangan sampai kita diberi nikmat oleh Allah, tapi kita lalai dan lupa bersyukur. Jika kita lupa bersyukur, Allah akan ambil nikmat-Nya sebagai teguran. Jika ditambahkan terus menerus, berhati-hatilah. Bisa jadi Allah sedang mengazabmu dengan istidraj. Sehingga kamu kembali kelak kepadanya tiada nikmat 1 pun yang bisa kamu nikmati.
Didalam buku ini juga dituliskan, bagaimana nikmat itu bisa dirasakan manisnya, yaitu setelah kehilangan nikmat. Level kenikmatan tertinggi manusia adalah nikmat iman dan sehat. Nikmat iman adalah nikmat dalam ibadah. Seseorang yang menikmati ibadah setiap detik nya, hidupnya selalu dilimpahkan kecukupan. Sekalipun ada kekurangan itu merupakan ujian Allah untuk membersihkan dosa mempererat kedekatan orang beriman tersebut dengan tuhannya. Sementara nikmat sehat adalah nikmat kedua setelah iman. Dengan sehat kita bisa maksimal dalam menjalan kegiatan hablu minallah dan hablu minannas.
Berhatilah-hatilah, jika rasa syukur mulai tergerus dari hatimu. Kurangnya bersyukur adalah bibit dari kesombongan. Bagaimana tidak? Semua kenikmatan ia terima namun ia tidak mensyukurinya. Ia merasa nikmat hari ini adalah kerja kerasnya. Padahal, jika tidak karena keridhoan Allah, demi Allah niscaya semua yang ia terima tidak mungkin sampai padanya. Kebenaran Allah tidak diterima dan inilah sombong. Sombong adalah menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain. Resiko kesombongan adalah tidak dapat mencium bau syurga Allah (Tidak Masuk Syurga). HR. Muslim.
Dalam buku ini dijabarkan risiko mengingkari nikmat Allah karena tidak bersyukur.
- Hati mengeras, tertutup dan mati.
- Terjebak dalam istidraj
- Mendapatkan azab yang pedih dunia yaitu Allah akan membuat ia lalai kepada Rabbnya.
- Mendapat azab pedih kelak
Jangan sampai kita termasuk dalam orang yang ingkar nikmat karena tidak bersyukur.
“Sungguh kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus, ada yang bersyukur da nada yang kufur” QS. Al Insan” 3.
Manusia diciptakan untuk beribadah dan bersyukur. Bukankah kalimat tertua adalah Bismillahirrahmanirrahim? Allah Maha Pengasih dan maha Penyayang. Lalu dengan sudah sekasih dan sesayang itu Allah kepada kita, kenapa kita tidak bersyukur? Jawabnya hanya kita yang tahu. Didalam buku ini juga diberikan contoh insan yang tidak bersyukur dan menolak tuhan Allah sebagai pemberi nikmat. Contoh dalam buku ini diambil kisah tidak bersyukur yaitu Qarun yang kaya raya namun menolak tuhan Allah dan tidak bersyukur atas nikmatnya. Hal ini dibandingkan dengan Usman bin Affan dan Abdurahman Bin Auf. Insan kaya raya dgn keimanan dan syukur yang dahsyat. Bahkan beberapa riwayat menyatakan Abdurahman bin Auf dalah orang paling lama hisabnya karena saking kayanya. Namun kekayaan yang membawa kenikmatan beriringan dengan syukur kepada Allah.
Kalimat yang datang dari Allah yang menyentuh rasa ingin bersyukur yang tak terhingga.
- Surah Ar Rahman. Kalimat "fabiayyi 'ala irobbikuma tukadziban" (فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) terdapat dalam Surat Ar-Rahman, yang merupakan surat ke-55 dalam Al-Qur'an. Ayat ini diulang sebanyak 31 kali dalam surat tersebut dan memiliki arti "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?".
- Surah An Nhl 53. An-Nahl ayat 53 adalah surat dalam Al-Qur'an yang menjelaskan bahwa segala nikmat yang dimiliki manusia berasal dari Allah, dan ketika ditimpa kesulitan atau kemudaratan, hanya kepada-Nya manusia memohon pertolongan. Ayat ini menekankan bahwa Allah adalah satu-satunya sumber anugerah dan tempat mengadu saat dalam kesulitan, menunjukkan kesadaran fitrah manusia akan kekuasaan-Nya.
- Surah An Nhal 18. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
- Surat Ibrahim ayat 7 Yang berbunyi: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'". Ayat ini menegaskan janji Allah SWT untuk menambah nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur, sekaligus memberikan peringatan keras bagi mereka yang mengingkari nikmat tersebut.
- Q.S. Al-Baqarah ayat 152 yang berbunyi "Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepada-Mu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku
- Q.S. Adh Dhuha ayat 11 yang berbunyi "Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur)".
- Surah Al-Baqarah ayat 172 artinya: "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah".
- Surah An-Naml ayat 40 artinya: "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri; dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia".
- Surah Lukman 27 yang berbunyi "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". Kalimat Allah disini adalah keilmuan Allah dan Nikmat Allah.
Dalam buku ini menyampaikan kiat dalam membangun syukur
- Pengakuan oleh hati, atas nikmat dan karunia Allah. Tidak mengeluh, berbaik sangka dan tabah.
- Menampakkan dalam fisik dan perbuatan dan menyanjung Allah dengan Lisan. Pakaian, makanan, kendaraan namun tidak berlebihan dan berucap hamdalah.
- Menggunakan nikmat Allah untuk melaksanakan ketaatan. Uang untuk sedekah, umrah, haji dan ketaatan lain.
- Berkumpullah dengan orang shalih. Keimanan dan syukur adalah paket segandeng untuk orang shalih