Proses
membentuk kebiasaan yang duraikan dalam buku ini adalah
sebagai
berikut:
1.
Memulai kebiasaan (Fokus Memulai)
Sejauh apapun
perjalanan yang akan kita tempuh, tidak akan pernah selesai jika tidak kita memulainya.
Tidak ada waktu yang tepat untuk memulai, mulailah dari titik kita berdiri
dan kemampuan yang kita miliki. Awali
dengan satu kebiasaan baik dan pilihlah 1 atau maksimal 3 kebiasaaan yang ingin
kita bentuk. Kemudian fokuslah pada satu kebiasaan baru dalam satu waktu (misal:
memulai kebiasaan shalat subuh di masjid, meminum air putih setiap bangun
tidur). Pilih kebiasaan berdasarkan kebutuhan, berdasarkan dampaknya jika berhasil
direalisasikan, berdasarkan yang paling siap dan mudah untuk dilakukan. Mulai
dengan tindakan paling sederhana (misal: hanya berdiri di depan pintu jika
tidak ingin olahraga). Habit Stacking: Kaitkan kebiasaan baru dengan kebiasaan lama
(misal: membaca buku setelah minum kopi).
2.
Menjaga kebiasaan (Fokus pada konsistensi)
Menjaga
kebiasaan adalah langkah penting selanjutnya untuk semakin menguatkan proses membentuk
kebiasaan. Di hari-hari awal menjalani kebiasaan, kita harus membuka kembali
proposal kebiasaan yang telah kita buat dan mengingatkan kembali alasan kita
melakukan kebiasaan itu. Temukan pemicu atau kenali alasan di balik kebiasaan
buruk atau manfaat dari kebiasaan baik, upayakan merubah rutinitas lama, misal:
tidur lebih awal. Selalu ingatkan diri tentang konsekuensi jika tidak melakukan
kebiasaan baik, misal: terlambat kantor jika tidak bangun lebih pagi, perut membesar
jika tidak olahraga. Rayakan setiap kemajuan kecil untuk motivasi dengan
memberi apresiasi diri setelah berhasil, misal: makan makanan favorit jika berhasil
tidak bangun kesiangan, membeli sepatu baru jika sudah rutin berolahraga selama
1 minggu. Posisikan kebiasaan sebagai hal penting sehingga menjadi alasan kuat
untuk dilakukan. Jangan sampai ada pikiran untuk gagal atau mundur ke belakang.
Jika kita memiliki masa lalu yang selalu membayangi dan menarik diri untuk
tidak meninggalkannya, maka harus diingat bahwa kita mempunyai masa depan,
yaitu suatu tempat yang kebiasaan kita bangun akan menjadi bagian dari keseharian
kita nantinya. Ciptakan imajinasi kesuksesan saat kebiasaan itu benar- benar
tertanam, maka kita harus terus maju selangkah demi selangkah mencapai imajinasi
tersebut. Makin sering kebiasaan dilakukan makin ringan untuk dikerjakan.
Kebiasaan juga harus dijaga dengan per-ulangan, bukan membayangkan
kesempurnaan. Karena pengulangan akan membawa kita sedikit demi sedikit menjadi
lebih baik, kuat dan bersemangat. Selanjutnya kita akan sampai pada satu titik
yang kebiasaan itu otomatis saja dilakukan, tanpa berfikir panjang lagi. Dan
ini merupakan target akhir dari tahap menjaga kebiasaan.
3.
Mengabadikan kebiasaan (Fokus Komitmen dan
Konsistensi)
Pada akhirnya,
kebiasaan akan disebut sebagai kebiasaan manakala ia terus dilakukan. Ketika kebiasaan
mulai pudar, bahkan perlahan- lahan akhirnya menghilang, ia tidak layak lagi
menyandang
gelar
kebiasaan. Oleh karena itu, bukan hanya tentang memulai dan menjaga, melainkan
yang jauh lebih penting lagi adalah kita mengabadikan kebiasaan agar ia tidak
kehilangan gelar kehebatannya. Sebagaimana kita fahami kebiasaan memiliki 2
ciri utama, yaitu otomatis dan berulang. Pada tahap mengabadikan makna
kebiasaan menjadi sebuah kebutuhan yang tidak terlepaskan dari keseharian kita.
Hal ini akan membuat kita merasa harus melaksanakan kebiasaan tersebut secara
konsisten seperti hal nya makan, jika tidak dilakukan kita akan kelaparan.
Dalam tahap
mengabadikan, kebiasaan harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan jangan menyerah.
Menambah target atau memunculkan kebiasaan baru akan menambah energi
kebiasaan itu sendiri. Menemukan
lingkungan yang mendukung kita dalam membentuk kebiasaan juga sangat dibutuhkan.
Karena sebagian energi kebiasaan yang kita butuhkan juga berasal dari orang
lain (eksternal). Baik dari lingkungan pertemanan, keluarga, maupun orang
terdekat kita. Meskipun kita sendiri harus siap untuk sendiri dalam membentuk
kebiasaan itu, karena dukungan dari luar bukanlah hal bisa kita kontrol. Misalnya,
kita akan lebih mudah membentuk kebiasaan bangun pagi jika keluarga satu rumah
membantu membangunkan ketika kita tidak berhasil melakukannya. Untuk menjaga konsistensi dalam membentuk
kebiasaan juga dapat dilakukan dengan pemantauan realisasi kebiasaan setiap
hari. Istilahnya habit tracking. Karena hal ini akan membantu kita dalam mengevaluasi
kebiasaan yang akan kita bentuk secara berkala.
Proses
menjalani kebiasaan dari hari ke hari pasti perlu pengorbanan, kerja keras,
kedisiplinan, ketekunan, serta banyak rasa yang mungkin tidak terasa nyaman dan
pasti akan hinggap dalam jiwa kita. Namun, lihatlah saat kebiasaan itu selesai
kita kerjakan, kelak semua kesulitan dan ketidaknyamanan itu akan hilang,
berganti dengan rasa puas dan bahagia. Membangun
kebiasaan bukanlah hal sulit jika dilakukan dengan strategi yang tepat,
komitmen kuat, dan kesabaran yang akan dapat mengubah hal kecil menjadi
perubahan besar seiring waktu.
“Rob Gilbert : Awalnya, kita membentuk
kebiasaan. Kemudian, kebiasaan membentuk kita. Taklukkan
kebiasaan
buruk atau ia akan menaklukkanmu”